Selasa, 31 Mei 2016

Mahasi UI Bunuh Diri Karna Nilai

Mahasi UI Bunuh Diri Karna Nilai

Mahasiswa Akuntansi UI Bunuh Diri Secara Unik: Karena Nilai?
Kamar mahasiswa UI berinisial VB yang meninggal karena bunuh diri di Kukusan, Beji, Depok, 31 Mei 2016. Foto: Polres Depok
TEMPO.CODepok - Mahasiswa jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Vinsensius Billy, diduga mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di kamar kosnya. Jasad Billy ditemukan petugas kebersihan saat ingin membersihkan selasar depan kamarnya.‎

‎ Setelah olah tempat kejadian perkara (TKP) di kamarnya, Indekos Unica 26, tower G, lantai tiga kamar G303, Jalan Transmisi nomor 26, RT4 RW3, Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Selasa siang, 31 Mei 2016, polisi yakin Billy bunuh diri.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Depok Komisaris Teguh Nugroho mengatakan kesimpulan olah TKP oleh tim identifikasi menyatakan korban tewas karena bunuh diri. "Diperkuat karena kamarnya terkunci dari dalam. Dibuka saja kami dobrak pakai linggis," kata Teguh.

Ia menuturkan, setelah dapat masuk ke kamar, ada tali yang mengikat dan direntangkan ke sisi kanan dan kiri korban. Leher Billy terjerat tujuh putaran tali, yang diduga dia ikat sendiri. "Kami sudah mencoba merekonstruksi cara dia mengikat. Ikatan pertama di tiang penyangga gorden. Satunya lagi di atas lemari. Semuanya bisa dilakukan sendiri," ujarnya

Jeratan yang kuat di bawah telinga menyebabkan korban cepat tewas. Polisi belum menemukan indikasi kekerasan fisik. "Keluar kotoran dari duburnya, dan tanda-tanda fisik lain orang bunuh diri."

Selain itu, berdasarkan keterangan saksi, mahasiswa semester VIII itu nekat mengakhiri hidupnya karena tidak kuat memikul beban perkuliahan. Sebab, nilainya anjlok. Selain itu, korban dikenal sebagai sosok yang tertutup dan sudah lama sering mengeluh sakit kepala.

"Keluarga tadi menolak (korban) diautopsi. Tadinya mau dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk memastikan penyebab kematiannya," ucapnya.

IMAM HAMDI

Jumat, 27 Mei 2016



Bismillahirrahmanirrahim….

Hidup ini laksana bentangan kanvas putih, tiap tahun tiba, kita telah goreskan aneka warna. Tapi ingat, suatu saat nanti, Allah akan menilai kualitas lukisan kita. Semoga kita bisa indahkan lukisan di sisa waktu. Seperti itulah hidup ini... ia hanya permainan... yang pandai bermain akan dapatkan surga... yang terlena kehidupan dunia akan dapatkan neraka. Ia hanya kefanaan, yang tak mampu membedakan akan tergoda… ia hanya kedustaan, yang tertipu kan tersesat, betapa hidup ini terasa cepat, waktu terus berjalan tak terkendali…


Berhati-hatilah, bukankah “Allah itu akan menguji di titik terlemah kita”?  Ingatlah pesan Imam Syafi’I, Betapa banyak manusia yang lalai sementara kain kafannya sedang di tenun. Kita tidak berwenang sedikitpun terhadap kematian, dalam sehat ataupun sakit, dalam muda ataupun tua, dalam senang ataupun susah, dalam ibadah atau maksiat, siap tidak siap, ketika ajal datang, maka kita tidak akan bisa menundanya, walaupun hanya sesaat.

Bahkan tidak ada yang bisa memastikan selesainya kultum ini kita masih bisa merasakan manisnya kehidupan. Oleh karena itu kawanku semuanya yang saya cintai, untuk menjaga diri kita ingatlah kematian, karena melupakan kematian akan membawa pada ketenangan yang membahayakan.

Mangingat mati memberikan dua kebermanfaatan besar. Pertama, Pemahaman mendalam kita pada kesementaraan kehidupan ini akan mengantarkan kita pada kebijaksanaan hidup dan keikhlasan pengabdian. Kedua, Mengingat mati adalah penawar cinta dunia yang berlebihan dan pemutus kenikmatan. Oleh karena itu, tatkala tergoda dengan dosa dan maksiat, ingatlah mati. Rasulullah pernah bersabda, Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang hamba itu, Dia akan mempergunakannya. Sahabat bertanya: Bagaimana Allah mempergunakan hamba itu? Rasulullah menjawab: Allah akan menentukan kepadanya sesuatu amalan yang soleh sebelum kematiannya.

Kawan, Surga dikelilingi hal-hal yang tak disukai manusia, bangun jam 3, shalat tahajud, laki-laki shalat subuh ke Masjid, mengorbankan waktu tenaga, pikiran, untuk kebaikan, tapi rasa cinta kita kepada surga mengubah hal-hal yang tak kita sukai menjadi kita sukai. Sebaliknya, neraka dikelilingi hal-hal yang kita sukai, tapi rasa takut kita kepada neraka itu mengubah hal-hal yang kita sukai menjadi kita benci.

Kita selalu dihadapkan pada pilihan dunia dan akherat.,
antara kemulian yang fana atau kemuliaan yang abadi,
antara mencintai kehidupan atau mencintai kematian,
antara mengejar hidup nyaman atau mengejar mati nyaman,
antara mengisi tabungan dunia, atau mengisi tabungan akherat,

Kawan, Hari ini saatnya kita bisa beramal, tanpa menghitungnya, kelak di akhirat kita hanya bisa menghitung amal tanpa bisa beramal lagi,

Yang Muda Yang Berbagi,
dr. Gamal Albinsaid
#MudaMendunia
#GamalBerbagi